Dua Figur Calon DPD RI Dapil Kaltara Mulai Punya Nilai Jual

RedaksiRedaksi - Senin | 11 Februari 2019 WIB
judul]
FOTO : NEWSTARA / ISTIMEWA

Newstara.com TARAKAN - Menjelang penyelenggaran Pemilihan Umum pada 17 April 2019 mendatang, sejumlah calon-calon kuat sudah menunjukkan eksistensinya ditengah-tengah masyarakat. Bahkan, sesaat memasuki tahapan kampanye untuk calon anggota DPD RI, DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota serta Capres Cawapres, mulai saling tarik menarik dukungan.

Hasil pantauan newstara.com sejak seminggu terakhir bahwa calon non partai seperti DPD RI mengerucut sejumlah nama-nama mulai dari Marthin Billa, Alwan Saputra, Ahmad Kartadi, Mukhlis Ramlan, Hasan Basri, Joko Slamet dan lainnya.

Namun, kursi yang disediakan alias jatah untuk masing-masing Provinsi hanya ada empat. Sehingga, dipastikan persaingan akan sangat ketat.

Akademisi Universitas Borneo Tarakan, H. Jafar Sidik, S.E., M.Si menilai sekitar 23 Calon Anggota DPD RI yang saat ini sedang bertanding memperebutkan kursi Anggota DPD RI dari Kalimantan Utara, sebagian calon diyakini sudah memiliki massa tersendiri. Hanya saja, dirinya mengenal kepribadian dari Alwan Saputra dan Marthin Billa.

Ia menganggap kedua nama tersebut mempunyai track record/rekam jejak yang cukup memadai untuk mewakili masyarakat Kalimantan Utara di Gedung DPD RI di Senayan, Jakarta.

"Marthin Billa adalah tokoh yang cukup representatif di Kalimantan Utara, dua periode menjadi Bupati Malinau dan merupakan Ketua Persekutuan Dayak Kalimantan Timur/Utara," ujarnya.

Marthin Billa juga sempat menjadi Anggota DPD RI dari Kalimantan Timur (2014 – 2019), namun mengundurkan diri pada tahun 2015 karena mengikuti bursa Pemilihan Gubernur dan menjadi Calon Gubernur berpasangan dengan dr. Jusuf SK. Namun, kiprahnya terhenti saat KPU menyatakan pasangan H. Irianto Lambrie dan H. Udin Hianggio menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltara.

Seorang Marthin Billa sangat diperhitungkan dalam kancah perpolitikan di Kaltara hingga saat ini. Selain mewakili masyarakat Dayak Kalimantan Utara, juga namanya familiar di Kabupaten Malinau, dan Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara lainnya.

"Ditambah lagi faktor usia beliau yang sudah menjelang 65 tahun dan memiliki pengalaman yang panjang, dipekirakan akan memiliki segmen pemilih Nasrani dan kaum tua," tambahnya.

Sementara, Alwan Saputra merupakan sosok tokoh muda yang cukup menarik, bahkan pernah memimpin induk organisasi pemuda yaitu Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bulungan selama 2 periode  dan KNPI Provinsi Kalimantan Utara 1 periode, saat ini memegang jabatan strategis di organisasi Islam terbesar sebagai Sekretaris Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Kalimantan Utara dan Ketua Komite Pondok Pesantren Al Khairaat.

"pengalamannya di birokrasi dan memimpin organisasi yang besar diperkirakan mampu membuat popularitas dan elektabilitas yang tinggi," tutur Jafar Sidik.

Alwan juga mengabdi selama 17 tahun di birokrasi dengan Pangkat/Golongan terakhir IV/a dan menduduki Eselon III serta karir di birokrasi yang cukup panjang. Bahkan, tidak menyurutkan langkahnya untuk maju menjadi Anggota DPD RI.

"Zona nyaman Alwan Saputra sebagai ASN sebenarnya sudah punya, namun karena dia ingin mengabdikan kepada masyarakat, maka dia ikut bertarung di kursi DPD RI, apalagi usianya masih dibawah 50 tahun," ucapnya.

Menurut Jafar Sidik, Alwan Saputra diperkirakan akan mendapat dukungan dari kalangan Muslim dan Nasionalis khususnya kaum Nahdliyyin dan Alkhairaat serta kaum milenial yang tentu berharap dan merupakan kesempatan emas bagi kaum muda  untuk punya keterwakilan di DPD RI.

Jafar Sidik mengatakan kelebihan kedua tokoh ini adalah tingkat popularitas (keterkenalan) yang cukup tinggi dan merata untuk wilayah Kalimantan Utara dibandingkan dengan calon-calon lain yang ada, ini disebabkan kiprah mereka selama ini.

Dan popularitas ini dapat mendongkrak elektabilitas (keterpilihan) mereka pada Pemilu mendatang, walaupun sisa waktu hanya dua bulan terakhir, namun tetap dapat menentukan pilihan masyarakat. Biasanya pemilih akan melihat Calon Anggota DPD RI yang familiar dan sudah dikenal pada saat pemilhan tersebut.

Baginya, Provinsi Kalimantan Utara ,yang baru pertama kalinya mendapat kuota 4 (empat) kursi Anggota DPD RI secara murni karena sebelumnya Tahun 2014 masih bergabung dengan Kalimantan Timur, dan diharapkan masyarakat dapat dengan jeli memilah dan memilih wakil rakyat khususnya di DPD RI sebagai sarana memperjuangkan aspirasi daerah di tingkat nasional. (Adv)